Kunanti Datangnya Setan

Mary MacLane

Terjemahan Eliza Vitri Handayani

 

Dinukshan Kuruppu, "Devil Sky"

Dinukshan Kuruppu, "Devil Sky"

Aku, perempuan, sembilan belas tahun, sekarang akan menulis penggambaran yang menyeluruh dan apa adanya tentang diriku, Mary MacLane, yang tak ada duanya di dunia ini.

Aku yakin aku memang tak ada duanya, sebab aku aneh.

Aku jelas orisinil, sejak lahir dan terus tumbuh berkembang.

Kumiliki intensitas kehidupan yang tak lumrah.

Aku mampu merasakan.

Kumiliki kapasitas yang luar biasa untuk meresapi sengsara dan bahagia.

Pikiranku luas.

Aku seorang jenius.

Aku seorang filsuf dari disiplin pemikiran peripatetik ciptaanku sendiri.

Aku tak peduli mana benar mana salah—nuraniku tiada.

Otakku perkumpulan bermacam-macam kebolehan yang agresif.

Aku telah mencapai keadaan yang sungguh menakjubkan—ketakbahagiaan yang merana mencekam.

Aku mengenal diriku, oh, sungguh baik.

Aku telah mencapai egoisme yang memang langka.

Aku telah beranjak ke bayang-bayang gelap.

Semua ini sama dengan keanehan. Kusimpulkan, oleh karena itu, bahwa aku amat sangat aneh.

Aku telah memburu bahkan sebatas bayangan orang yang mirip denganku di antara sekian ratus kenalanku. Sia-sia. Banyak orang di sekelilingku, orang dengan kedalaman dan karakter yang bervariasi, tapi tak seorang pun sebanding denganku. Orang-orang muda yang seumuran denganku—jika tanpa sengaja kutunjukkan sekilas saja cara kerja benakku yang sesungguhnya—mereka hanya dapat memelototiku, terperangah penuh ketololan, tak mengerti; sementara, orang-orang tua usia empat puluh dan lima puluh—sebab empat puluh dan lima puluh selalu lebih tua daripada sembilan belas—entah juga menatap penuh ketololan atau tersenyum dengan merendahkan, senyum yang hanya mereka tampilkan untuk anak-anak muda yang tolol, padahal benak mereka sendiri yang sempit. Betapa idiotnya orang-orang empat puluh dan lima puluh tahun kadang-kadang!

Di atas memang contoh-contoh yang ekstrim. Ada di antara kenalan mudaku yang tidak memelototiku dengan tolol, dan ya, bahkan ada beberapa orang usia empat puluh atau lima puluh yang memahami sebagian fase karakterku yang rumit, walau tak seorang pun memahaminya secara penuh.

Namun, seperti kubilang, bahkan sebatas bayangan orang yang mirip denganku tak dapat ditemukan di antara mereka.

Meskipun begitu, saat ini aku memikirkan dua benak yang terkenal di dunia kesusastraan—dalam benak mereka kutemukan titik-titik kemiripan dengan benakku sendiri. Aku memikirkan benak Lord Byron dan Marie Bashkirtseff. Dalam buah benak Byron Don Juan kutemukan sirat-sirat diriku. Dalam pencurahan sublim ini hanya segelintir orang akan mengagumi karakter Don Juan, tapi semua pasti mengagumi Byron. Ia sungguh mengagumkan. Ia menelanjangi dan mengungkapkan bagi mata dunia jiwanya tempat baik dan buruk bercampur—sebagaimana dunia sering menyebut kedua sifat bertentangan itu. Ia memahami umat manusia, dan ia memahami dirinya.

Sedangkan ia yang ganjil dan layak diperhatikan itu, Marie Bashkirtseff, ya, aku mirip dengannya dalam banyak hal, demikian aku diberitahu. Tapi dalam banyak hal, aku melebihinya.

Kala ia dalam, aku lebih dalam.

Kala ia luar biasa dalam intensitasnya, aku lebih luar biasa dalam intensitasku.

Kala ia berfilosofi, akulah sang filsuf.

Kala ia menunjukkan kecongkakan dan kepuasan diri yang memengarahkan, aku lebih lagi.

Tapi dia, kuakui, mampu menggambar dengan elok, sedangkan aku, apa yang dapat kulakukan?

Ia memiliki wajah yang cantik, dan aku berparas sederhana, binatang kecil tak berarti.

Ia dikelilingi teman-teman yang simpatik dan mengaguminya, sedangkan aku sendirian—sendirian, walau di sekelilingku ada orang, banyak orang.

Ia seorang jenius, dan aku lebih jenius lagi.

Ia menderita sakitnya jadi perempuan dan muda, dan aku menderita sakitnya jadi perempuan dan muda dan sendirian.

Begitulah.

Bisa dibilang aku telah tiba di ujung dunia. Satu langkah lagi dan aku akan jatuh. Aku tidak melangkah. Aku berdiri di ujung, dan aku menderita.

Tak ada, oh, tak ada di bumi ini yang dapat menderita seperti seorang perempuan, muda, dan sendirian!

 

Sebelum aku menggambarkan Mary MacLane dengan lebih jauh, aku akan menuliskan sekelumit sejarahnya yang tak menarik.

Aku lahir pada tahun 1881 di Winnepeg, Kanada. Apakah Winnepeg nantinya akan merasa hal akan fakta ini adalah sesuatu yang kadang membuatku menduga-duga dan resah. Ketika aku empat tahun aku dipindahkan oleh keluargaku ke sebuah kota kecil di Minnesota barat, dan aku tinggal kurang-lebih kehidupan yang tak menantang dan kesepian, dan di sana aku menjalani kehidupan yang kurang-lebih hambar dan sepi hingga aku sepuluh tahun. Kemudian kami pindah ke Montana.

Kehidupanku berlanjut dengan sama hambar dan sepinya di sana.

Ayahku meninggal saat aku delapan tahun.

Selain membuatku nyaman dengan pangan dan sandang dan mengirimku ke sekolah—tak lebih daripada yang wajib diberikan orangtua kepada anaknya—dan meneruskan kepadaku darah dan karakter MacLane, dalam pandanganku ayahku tak pernah menurunkan sebersit pun pikirannya kepadaku.

Jelas ia tak mencintaiku, sebab ia tak mampu mencintai siapa pun kecuali dirinya sendiri. Dan karena tak ada satu hal pun pada saat mana pun di dunia ini tanpa cinta manusia untuk satu sama lain, aku seratus persen tak peduli apakah ayahku, Jim MacLane yang begitu egois dalam kenanganku, hidup atau mati.

Ia tak berarti apa-apa bagiku.

Masih hidup bersamaku seorang ibu, seorang saudara perempuan, dan dua saudara laki-laki.

Mereka juga tak berarti apa-apa bagiku.

Mereka tak memahamiku lebih daripada seandainya aku hanya barang pameran yang aneh—begitulah, aku berani bilang, cara mereka memandangku.

Aku mewarisi darah MacLane, dari Dataran Tinggi Skotlandia. Adik-kakakku mewarisi sifat keluarga ibu mereka, dari Dataran Rendah Skotlandia. Ini sebuah perbedaan yang besar. Selain itu, keluarga MacLane—keluarga MacLane yang ini—hanya sedikit berbeda dari keluarga lainnya di Kanada, dan dari semua yang lain yang pernah kukenal. Keluarga MacLane memiliki dan telah memiliki berbagai benak yang fanatik—agamis, sosialis, apa saja, dan aku adalah MacLane sejati.

Sama sekali tak ada simpati antara keluarga dekatku dan aku. Takkan pernah ada. Ibuku, yang telah bersamaku selama 19 tahun, punya anggapan yang sama sekali keliru tentang sifat dan keinginanku—itu pun kalau dia punya anggapan sama sekali.

Ketika kupikir tentang cinta dan simpati yang indah yang sering terbentuk antara ibu dan putrinya, aku merasa dicurangi, seolah telah dirampas sebuah hal indah yang semestinya kumiliki dan menjadi hakku, dalam dunia di mana hal-hal yang indah sepertinya sangat langka.

Akan selalu begitu.

Adik-kakakku tidak tertarik akan diriku, analisaku, filosofiku, dan keinginanku. Keinginan mereka sendiri sangat praktis dan material. Cinta dan simpati antara manusia bagi mereka, kelihatannya, hanya untuk tokoh-tokoh dalam buku.

Pendeknya, mereka orang dataran rendah Skotlandia, sedangkan aku seorang MacLane.

Dan begitulah, sebagaimana kukatakan, kupikul keberadaanku yang tak menarik ke Montana. Namun, keberadaanku menjadi lebih menarik seraya benakku yang mudah beradaptasi tumbuh dan berkembang dan mengetahui hal-hal cemerlang yang ada di dunia ini. Tetapi aku pun menyadari, seraya tahun-tahun berlalu, hidupku sendiri paling bagus adalah hambar dan negatif.

Ribuan harta karun yang kubutuhkan tak terjangkau.

Aku lulus dari SMA dengan hal-hal berikut: bahasa Latin yang sangat lancar, bahasa Prancis dan Yunani yang bagus, Geometri dan Matematika yang lumayan, pemahaman yang luas akan sejarah dan sastra, filosofi peripatetik yang kuperoleh tanpa bantuan dari sekolah, kejeniusan yang selalu bersamaku, hati yang hampa dan mulai membeku, tubuh perempuan muda yang prima dan kuat, serta jiwa yang kelaparan dan mengenaskan.

Dengan segala hal di atas kuarungi dua tahun terakhir kehidupanku. Hidupku, walau tak memuaskan dan meremukkan, tak lagi tawar.  Ia penuh kesengsaraan yang menyentuh—kesengsaraan karena kehampaan.

Tak ada satu pun hal khusus yang menjadi perhatianku. Aku menulis setiap hari. Menulis adalah kebutuhan—seperti makan. Aku mengerjakan sedikit pekerjaan rumah, dan secara keseluruhan aku lumayan senang mengerjakannya—beberapa bagiannya. Aku tak senang membersihkan kursi, tapi aku tak benci mengepel lantai. Malah, aku mendapatkan banyak tenaga dan keanggunan tubuh dari mengepel lantai dapur—belum lagi buah-buah pemikiran filosofis yang kudapat. Mengepel lantai mendatangkan energi tersendiri pada tubuh dan otak.

Tapi kebanyakan aku berjalan-jalan di alam terbuka. Butte, Montana dan sekitarnya mempersembahkan pemandangan terjelek yang mungkin kaubayangkan. Dan segala yang sempurna, atau yang mendekati sempurna, tidak boleh dicaci. Aku telah mencapai sebuah konsepsi yang subtil dan memukau seraya berjalan bermil-mil melintasi pasir dan kekosongan antara bukit-bukit dan lembah-lembah kecil. Keterpencilan ini menjadi inspirasi pikiran-pikiran panjang dan penantian tanpa nama. Tiap hari aku berjalan melintasi pasir dan kehampaan.

Begitulah, hidupku sehari-hari tampak cukup biasa, dan mungkin, bagi mata orang biasa, cukup nyaman.

Mungkin memang begitu.

Tapi bagiku, sebuah kelelahan yang kosong dan terkutuk.

Aku bangun pagi, makan tiga kali, berjalan-jalan, bekerja sedikit, membaca sedikit, menulis, menemui beberapa orang yang hambar, tidur.

Keesokan harinya, aku bangun pagi, makan tiga kali, berjalan-jalan, bekerja sedikit, membaca sedikit, menulis, menemui beberapa orang yang hambar, tidur.

Sekali lagi aku bangun pagi, makan tiga kali, berjalan-jalan, bekerja sedikit, membaca sedikit, menulis, menemui beberapa orang yang hambar, tidur.

Sungguh hidup yang mulia, penuh jiwa.

Apa pengaruhnya bagiku, bagaimana ia memengaruhiku, sekarang akan kugambarkan.

 

14 JANUARI

Kukandung dalam diriku bibit kehidupan yang intens. Andai saja aku dapat hidup, dan andai aku berhasil menuliskan kehidupanku, dunia pun akan merasakan sendiri bobot intensitas hidupku.

Kumiliki kepribadian dan karakter Napoleon, tentunya dalam terjemahan yang feminin. Dan karena itu aku tidak menaklukkan, aku bahkan tidak bertempur. Aku hanya mampu ada.

Mary MacLane yang malang! Apa yang tak dapat kaujelma? Hal ajaib macam apa yang kau tak dapat kaulakukan? Hanya saja kau dipatok ke tanah, separuh terkubur, bibit yang jatuh pada lahan yang tandus, sendiri, tak dimengerti, terpencil—sungguh kasihan kau, Mary MacLane. Menangislah, dunia—mengapa tidak—untuk Mary MacLane yang malang!

Jikalau aku terlahir laki-laki, sekarang aku pasti sudah meninggalkan kesan yang mendalam bagi dunia—di suatu bagian dunia. Tapi aku perempuan, dan Tuhan, atau Setan, atau Takdir, atau apa pun, telah menguliti lapisanku terluar dan mengempasku ke tengah kehidupan—telah meninggalkanku sendirian, terkutuk dengan darah yang merah, merah penuh ambisi dan gairah, tetapi takut untuk disentuh, sebab tak ada kulit tebal yang melindungi daging sensitifku dari jemari dunia.

Namun, aku ingin disentuh.

Napoleon seorang laki-laki, dan walau sensitif dagingnya tertutup dengan aman.

Tapi aku perempuan, yang mulai bangun, dan saat bangun menoleh ke sekelilingku, lalu menolak berbalik dan kembali tidur.

Ada rasa sakit yang menyertai pengalaman di atas kalau kau seorang perempuan, muda, dan sendirian.

Aku sarat dengan ambisi. Kudamba mempersembahkan pada dunia Potret Mary MacLane yang gamblang, hatinya yang membeku, tubuhnya yang muda dan elok, benaknya, jiwanya.

Aku ingin menulis, menulis, menulis!

Aku ingin memperoleh hal yang indah, lembut, halus, dan memuaskan itu—Ketenaran. Betapa aku menginginkannya, oh sangat! Ingin kutinggalkan keterpencilanku, kesengsaraanku, ketakbahagiaanku yang melelahkan. Ingin kutinggalkan semua itu di belakang, selamanya!

Aku sungguh lelah, hingga nyaris mati, akan ketakbahagiaanku.

Aku ingin Potret ini diterbitkan dan diluncurkan ke lautan asin yang dalam itu—dunia. Pasti ada di luar sana beberapa yang memahaminya dan memahamiku.

Mungkinkah aku menjadi apa yang selama ini kuyakini adalah diriku? Benarkah aku memiliki kejeniusan yang langka dan luar biasa, dan tetap menghabiskan hidupku dalam keterpencilan di kota kecil ini, di Montana, yang tak beradab dan tak berbentuk?

Mustahil! Jika kupikir dunia ini tak menyimpan apa-apa lagi buatku—oh, apalah yang harus kuperbuat? Haruskah kuhabisi sekarang juga hidupku yang kecil dan kering ini? Aku khawatir aku akan melakukannya. Aku seorang filsuf—dan seorang pengecut. Jauh lebih baik mati sekarang kala muda dan nadi masih berdetak deras daripada terus mengulur hidup, tahun demi tahun, tahun demi tahun, dan mendapati diri akhirnya perempuan tua yang terjebak, tanpa semangat, tanpa harapan, dengan tubuh yang membusuk, benak yang membusuk, dan tak ada yang dapat dilihat di belakang kecuali bayangan hal-hal yang dulu mungkin tercapai—oh lelahnya!

Kulihat jelas bayangan itu. Jelas sekali. Oh, Setan yang baik hati, selamatkan aku darinya!

Pasti ada di dunia yang penuh hal-hal yang indah ini sesuatu untukku. Dan selalu, selama aku masih muda, kulihat cahaya redup, Masa Depan. Tapi ia amat, sangat redup, dan kadang khianat berkedip di sana.

 

15 JANUARI

Maka, begitulah, kutemukan diriku pada saat ini perempuan, sembilan belas tahun, jenius, pencuri, dan pembohong—seorang pengembara moral, seorang yang kurang lebih tolol, dan seorang filsuf dari disiplin pemikiran peripatetik. Juga kudapati bahkan kombinasi di atas tak dapat membuat seseorang bahagia. Walaupun demikian, ia membuat benakku cukup sibuk, bertanya-tanya apa yang disimpan Setan yang baik hati untukku.

Seorang filsuf disiplin pemikiran peripatik ciptaanku sendiri—jam demi jam aku berjalan melalui kejemuan dan pasir yang telantar di antara bukit-bukit dan lembah-lembah mungil di tepian desa pertambangan ini. Pada pagi hari, pada sore yang panjang, pada dinginnya malam. Dan jam demi jam, seraya aku berjalan, barisan yang panjang melintasi otakku: parade khayalan-khyalanku, egoismeku yang tak ada tandingannya, ketakbahagiaanku, kebiasaanku menganalisa segala sesuatu hingga ke detail terkecil, parade falfasahku yang edan, parade kehidupanku yang hambar, hambar—dan parade segala Kebisajadian.

Kami bertiga berjalan melindasi pasir dan ketandusan—hatiku yang membeku, tubuhku yang muda, feminin, dan elok, dan jiwaku. Kami pergi ke sana dan merenungkan pemandangan yang telantar dan berpasir, garis di langit yang merah, merah, saat matahari terbenam, gunung yang dingin dan murung di bawahnya, dataran tak berumput, tanpa sebilah rumput pun bahkan ketika musim semi—sebab telah dibunuh bertahun-tahun yang lalu oleh asap belerang dari pabrik pelumeran.

Pasir dan ketandusan ini membentuk latar belakang kepribadianku.

 

16 JANUARI

Aku merasa seolah empat puluh tahun.

Namun, aku tahu perasaanku bukan perasaan orang empat puluh tahun.

Perasaanku milik anak muda yang sengsara dan menderita.

Tiap hari suasana rumah semakin tak tertahankan, tiap hari aku menyongsong pasir dan ketandusan. Udara tidak dingin, tidak juga hangat. Hanya murung.

Aku duduk selama dua jam di sisi sebuah anak sungai yang aduhai kasihan sempitnya. Bukan anak sungai alami juga. Kutebak ia berasal dari sebuah tambang di bukit sana. Tapi cocoklah anak sungai ini tidak alami—jika kauperhitungkan pasir dan ketandusan yang mengelilinginya. Sungguh masuk akal begitu.

Dan aku yang terutama masuk akal berada di sini. Lagipula, adalah sesuatu yang baik menemukan tempat kita—memiliki hubungan dengan sesuatu, bahkan pasir dan ketandusan sekalipun. Pasir dan ketandusan ini sudah kuno—oh, sangat kuno. Kau akan mendapat kesan ini begitu melihatnya.

Apa yang akan kulakukan andai bumi terbuat dari kayu, dan langit dari kertas!

Aku merasa seolah empat puluh tahun.

Dan sekali lagi kukatakan aku tahu perasaanku bukan perasaan orang empat puluh tahun, melainkan perasaan anak muda yang sengsara, menderita.

Masih lebih mengenaskan daripada pasir dan ketandusan dan anak sungai yang tak alami tadi adalah pekuburan yang kering dan remuk, tempat orang-orang Butte yang kering dan remuk memakamkan teman-teman mereka. Sebuah sumber kepuasan bagiku berjalan di pekuburan ini dan merenungkannya, dan mengagumi betapa sungguh kasihan keadaannya.

“Lebih mengenaskan daripada aku dan pasir dan ketandusan yang mengelilingiku dan anak sungai buatanku,” kataku, lagi dan lagi, dan kucari kenyamanan di sana.

Kondisi pekuburan itu jauh lebih telantar daripada kondisi seorang perempuan yang muda dan sendirian. Ia tak terawat. Padat debu dan batu. Beberapa bilah rumput yang tersebar tampak malu tumbuh di situ. Banyak batu nisan terbuat dari kayu dan, alangkah memalukannya, membusuk. Yang terbuat dari batu lebih memalukan karena berkilau mentereng.

Mayat-mayat yang kering dan remuk, teman-teman warga Butte yang kering dan remuk dikubur di lahan ini, yang berdebu, gersang, dan dikacaukan angin. Mereka ditinggalkan di sini dan dilupakan.

Setan pasti bersuka cita di pekuburan ini.

Dan aku bersuka cita bersama Setan.

Sungguh suatu hal yang bermakna bagiku, merenungkan bahwa pekuburan ini lebih mengenaskan daripada aku dan pasirku dan ketandusanku dan anak sungai buatanku.

Aku bersuka cita bersama Setan.

Penghuni pekuburan ini sudah dilupakan. Aku pernah sekali menonton pemakaman seorang anak kecil. Setiap hari selama dua minggu aku kembali ke makamnya, dan kutemukan ibu anak itu di sana.

Ia datang dan berdiri di samping kuburannya yang kecil dan segar. Setelah beberapa hari ia berhenti datang.

Aku kenal perempuan itu dan datang ke rumahnya untuk menemuinya. Ia sudah mulai melupakan anaknya. Ia mulai memungut kembali benang hidupnya yang putus. Benang hidupnya kini berkisar seputar perceraian dan pertikaian dengan tetangga.

Di pekuburan yang remuk, anaknya terlupakan. Dan kini nisan kayunya mulai membusuk. Tapi cacing-cacing takkan melupakan bagian mereka. Mereka pasti sudah melumat habis tubuh kecil anak itu sekarang, dan menikmatinya. Kapankah cacing tidak menikmati makan tubuh manusia?

Dan tak lupa Setan bersuka cita.

Dan aku bersuka cita dengan Setan.

Semua di atas lebih mengenaskan, kubersikeras, daripada aku dan pasir dan ketandusan—ibu yang hidupnya kini berkisar seputar perceraian dan pertikaian, dan cacing yang melumat tubuh anaknya, dan nisan kayu yang membusuk.

Maka Setan dan aku bersuka cita.

Namun, tak peduli betapa mengenaskan pekuburan yang kering itu, pasir dan ketandusan dan anak sungai yang mengering itu pun menderita kutukan yang tersendiri dan berkelanjutan. Dunia ini setidaknya dibangun sedemikian sehingga harta karunnya bisa dikutuk dengan cara dan tingkat yang berbeda-beda.

Aku merasa seolah empat puluh tahun.

Dan aku tahu perasaanku bukan perasaan orang empat puluh tahun. Orang-orang empat puluh tahun tidak merasakan hal-hal di atas. Ketika empat puluh tahun api mereka sudah lama padam. Ketika aku empat puluh tahun aku akan memandang kembali diriku dan perasaanku ketika sembilan belas tahun—dan aku akan tersenyum.

Atau benarkah aku akan tersenyum?

 

17 JANUARI

Seperti kukatakan di atas, aku ingin Ketenaran. Aku ingin menulis—menulis hal-hal yang membuahkan puji dan tepuk tangan penuh kekaguman dari seluruh dunia; hal-hal begitu ditulis hanya sekali selama bertahun-tahun, hal-hal yang secara subtil tapi jelas berbeda dari buku-buku lain yang ditulis setiap hari.

Aku sanggup mewujudkannya.

Biarkan aku menemukan suatu awal, biarkan aku mengetuk dunia pada titik lemahnya, dan aku bisa menyapunya bagai badai. Biarkan aku memenangkan cobaan-cobaanku, lalu kau akan melihatku—perempuan dan muda—dengan berani menunggangi kuda menyongsong dunia, dengan Ketenaran mengekori tak jauh di belakang dan orang-orang di sekitar menganga takjub.

Tapi oh, lebih daripada itu aku ingin bahagia!

Ketenaran memang halus dan lembut dan memuaskan. Tapi Kebahagiaan adalah sesuatu yang lembut dan berkilau jauh di atas segala lainnya.

Aku ingin Ketenaran lebih daripada yang mampu kuungkapkan.

Tapi lebih daripada Ketenaran aku ingin Kebahagiaan. Aku belum pernah bahagia dalam seluruh hidupku yang muda dan melelahkan.

Bayangkan, oh, bayangkan, bahagia selama setahun—sehari!

Betapa birunya langit pasti tampak, betapa bercahayanya! Betapa deras dan penuh gembira sungai-sungai hijau akan mengalir; betapa gila, ria, dan penuh kemenangan empat angin surga akan melesat mengelilingi tiap sudut bumi yang jelita!

Apa yang tak rela kuberikan demi satu hari, satu jam, merasakan hal ajaib itu—Kebahagiaan! Apa yang takkan kukorbankan?

Sungguh tolol kita ini yang menggebu untuk saling menyikut, menjambak, dan mencakar wajah satu sama lain—begitu bengisnya kita berebut Kebahagiaan. Bagi sebagian orang Kebahagiaan terkandung dalam Ketenaran, bagi sebagian lain dalam Kekayaan, bagi sebagian lain lagi dalam Kekuasaan, dan bagi sebagian yang lain lagi dalam Kebajikan—dan bagiku dalam sesuatu yang sangat mirip cinta. 

Tak ada orang tolol lain mendambakan Kebahagiaan sedahsyat aku. Hanya demi satu jam Kebahagiaan aku siap merelakan saat ini juga hal-hal berikut: Ketenaran, Kekayaan, Kekuasaan, dan Kebajikan, dan Kehormatan, dan Moral, dan Kebenaran, dan Logika, dan Filosofi, dan Kejeniusan. Dan akan kukatakan: semua di atas sungguh harga yang rendah, sangat rendah untuk menebus Kebahagiaan!

Aku siap dan menunggu untuk melepas segala yang kupunya kepada Setan sebagai ganti Kebahagiaan. Telah begitu lama aku tersiksa dengan kesengsaraan dan Kehampaan yang membosankan, membosankan—selama seluruh sembilan belas tahun. Aku ingin bahagia—oh, betapa aku ingin bahagia!

Setan belum juga tiba. Tapi aku tahu ia biasanya tiba, dan dengan tak sabar kumenantinya.

Aku beruntung aku bukan salah satu dari mereka yang dibebani dengan rasa kebajikan dan kehormatan yang harus selalu hadir sebelum Kebahagiaan. Mereka adalah segelintir orang yang menemukan Kebahagiaan dalam Kebajikan. Sementara yang lain harus puas melihatnya pergi.

Tapi bagiku Kebajikan dan Kehormatan tak berarti apa-apa.

Aku hanya mendamba Kebahagiaan.

Maka, kunanti datangnya Setan.

 

18 JANUARI

Dan sementara—seraya aku menanti—benakku sibuk memikirkan falsafahnya sendiri yang ganjil, maka bahkan Kehampaan menjadi nyaris tertahankan.

Setan telah menganugerahiku beberapa berkah—sebab kutemukan Setan memiliki dan menguasai bumi dan segala yang ada di dalamnya. Ia telah memberiku, antara lain—tubuh perempuan muda yang mengagumkan, yang kunikmati seluruhnya dan seluruhnya kusukai.

Getar kenikmatan merenggutku ketika kuresapi, dalam beberapa saat yang tajam, kesehatan dan vitalitas tubuh yang muda dan segar ini, yang feminin dalam tiap seratnya.

Kau dapat memandang dan mengagumi potret yang menyertai tulisan ini. Itu potret seorang jenius—seorang jenius dengan tubuh perempuan muda yang kuat—dan di dalam potret tubuh itu, ada hati, hati MacLane, sempurna dan mengagumkan.

Perempuan muda lain dan perempuan yang lebih tua dan laki-laki segala umur juga punya tubuh yang bagus, itu tak kuragukan—walau tubuh maskulin hanya daging, sepertinya, daging dan tulang dan tiada lainnya. Namun, hanya segelintir yang menyadari nilai tubuh mereka, hanya segelintir yang memahami segala potensi dan kebisajadiannya, kesempurnaannya yang artistik dan anggun, puisi yang terkandung dalam daging manusia yang sehat. Banyak orang bahkan tidak memiliki cukup akal untuk memelihara daging mereka agar tetap sehat, atau untuk mengetahui apa itu kesehatan hingga mereka telah meruntuhkan organ vital dan mengusir kesehatan selamanya.

Aku belum meruntuhkan organ vital mana pun, dan aku menghargai apa itu kesehatan. Aku telah meresapi seni, puisi tubuhku yang elok dan feminin.

Semua ini pada usia sembilan belas adalah kemenangan bagiku.

Suatu ketika di tengah terangnya Oktober, aku berjalan bermil-mil menembus udara tinggi yang tenang di bawah birunya langit. Cerahnya hari dan birunya langit dan tingginya udara yang tak terbanding telah merasuki nadi dan mengalir bersama darah merahku. Mereka membanjiri tiap pusat syarat yang terjauh dan meresap ke sumsum tulang-tulangku.

Pada saat-saat seperti itu, tubuh mudaku bersinar sarat akan kehidupan.

Darah merahku mengalir deras dan riang—di tengah terangnya bulan Oktober.

Hatiku yang sehat dan sensitif beristirahat dengan lembut dengan bile kuning kandungannya yang manis.

Perutku yang tenang dan cantik bernyanyi diam-diam, seraya aku berjalan, sebuah lagu tentang damai.

Paru-paruku, penuh dengan dengan ozon gunung dan wewangi pohon pinus, mengembang dalam ekstase terus-menerus.

Jantungku berdetak bagai musik Schumann—dengan ritme yang natural dan anggun, dengan nada yang penuh daya.

Syarafku yang kuat dan sensitif menguarkan dan berenang dalam sensualitas, seperti para Bacchant yang mabuk dan mungil, bermahkota bunga dan berpesta dengan gila dan riang.

Mekanisme tubuh perempuanku, yang ajaib dan anggun—seperti halnya mekanisme benak perempuanku, yang juga ajaib dan anggun—telah terlena oleh eloknya hari Oktober ini.

“Indah,” pikirku sendiri, “oh, sungguh indahnya hidup hari ini! Sungguh indah dan ajaib menjadi perempuan muda pada penuhnya sembilan belas musim semi. Tak terkatakan indahnya menjadi hewan muda yang sehat dan hidup di bumi yang memesona ini.”

Setelah aku berjalan beberapa jam aku tiba di wilayah yang belum ditembus asap belerang, dan aku duduk di tanah dengan lutut tertekuk ke dada dan beristirahat sementara bayang-bayang memanjang.

Bayang-bayang memanjang lebih awal pada bulan Oktober.

Saat ini aku berbaring datar di punggungku dan merentangkan tubuhku yang ramping dan luwes hingga batasnya, seperti singa gunung yang bersantai. Aku sungguh bersyukur kepada Setan atas sepasang kakiku yang sehat dan berfungsi sempurna di bawah naungan rok mini, ketika, seperti sekarang, mereka membawaku ke luar pucatnya peradaban, jauh dari orang-orang yang membosankan dan melelahkan. Tak ada satu pun di dunia ini yang dapat terasa begitu melelahkan dan menjengkelkan seperti manusia, manusia, manusia!

Maka, Setan, terimalah, untuk kedua kakiku yang sehat, rasa terima kasihku terdalam. Aku berbaring di tanah beberapa menit dan bermeditasi dengan santai. Tubuhku yang perempuan dan muda diliputi rasa kemalasan yang natural, sensual, dan indah, berbaring di tanah di bawah matahari hangat yang perlahan terbenam. Laki-laki bisa berbaring di tanah—tapi hanya begitu saja. Laki-laki akan tidur, mungkin, seperti anjing atau babi. Ia bahkan akan mendengkur, mungkin, di bawah terbenamnya matahari. Namun, laki-laki tak punya tubuh perempuan muda yang dapat meresapi, menerima ke dalam tubuhnya, sinar matahari hangat yang terbenam, pada suatu hari pada bulan Oktober—maka mari kita memaafkannya karena tidur dan mengorok.

Ketika aku bangkit lagi ke posisi duduk, segala cahaya di angkasa telah menggerombol di barat. Mereka melempar bayangan kuning glamor melingkupi bumi, glamor yang bukan soal kenikmatan atau keriangan, atau kebahagiaan, melainkan soal kedamaian.

Pohon poplar muda tersenyum lembut pada udara yang tenang dan hening. Semak sage dan rumput yang tinggi berpendar dalam kesunyian. Gunung-gunung Montana yang tinggi, yang dekat dan yang jauh, tampak lembut dan ramah. Damai di mana-mana—damai. Terbersit lagu tua nan indah itu:

“Lembah Avoca yang manis! Betapa tenang istirahatku

Di rengkuh bayang dadamu—”

 Tapi aku terlalu muda untuk memikirkan damai. Bukan damai yang kuinginkan. Damai untuk mereka yang empat puluh dan lima puluh tahun. Aku menanti Pengalaman.

Aku menanti datangnya Setan.

Dan kini, tak lama sebelum senjakala, setelah sinar matahari sirna di cakrawala, sekadar menyisakan sebaris garis merah, merah di langit.

Akan selalu ada hari-hari liar dan penuh badai, penuh hujan dan angin dan es, tetapi hampir selalu ada pada terbenamnya matahari, ketenangan—dan garis merah langit.

Tak ada apa pun di dunia ini yang menyerupai angkasa merah saat matahari terbenam. Ia Kemenangan, Kejayaan, Cinta, Ketenaran!

Bayangkan hidup yang tuna hal-hal di atas, tiada jemari dituding ke arahnya, dan tiada alis terangkat karenanya; terhempas dan tertiup ke sana dan ke sini; terinjak, terpukul, berdarah, tersayat-sayat, teraniaya, berguncang dengan derita; dan kemudian, pada hidup yang masih muda ini, garis langit yang merah, merah!

Mengapa aku menjerit melawan Takdir, kata garis itu, mengapa aku memberontak melawan sengsara yang kualami! Aku kini merayakannya, kini dalam Bahagia aku mengenangnya cuma dengan kenikmatan mendalam.

Pikirkan orang yang tiada duanya itu—mengagumkan, memesona, terbuat dari baja—Napoleon Bonaparte. Dihempaskannya dirinya dengan berat ke dunia, dan dunia tak pernah sama lagi karenanya. Ia benci dirinya, dan dunia, dan Tuhan, dan Takdir, dan Setan. Kebenciannya adalah sengsaranya.

Kemudian matahari menghempaskan ke langit, untuknya, garis yang merah, merah. Garis merah perlambang Kemenangan, Kejayaan, Ketenaran!

Dan kemudian ada hitamnya Malam, hitam yang tidak lembut, tidak halus.

Tapi betapa pun hitamnya Malam, tak ada yang dapat merenggut dari kita kenangan langit yang merah, merah. “Kenangan adalah milik kita,” dengan begitu langit yang merah kita miliki selamanya.

Oh, Setan, Takdir, Dunia—siapa saja, bawakan aku langit merahku! Sebentar saja, dan aku akan puas. Bawakan aku langit yang sangat merah, merah intens, merah pekat, pekat dengan kehidupan! Sesingkat apa pun juga, sesukamu, tapi yang merah, merah, merah!

Aku lelah—lelah, dan oh, aku ingin langit merahku! Betapa pun singkatnya, kenangan itu, keharuman itu akan langgeng bersamaku selalu—selalu. Setan, bawakan untukku, garis langit merahku untuk satu jam saja, dan sebagai gantinya ambillah segala, segala—semua yang kumiliki. Biarkan kurasakan Bahagia untuk satu jam yang singkat saja, lalu ambillah segalanya dariku selamanya. Aku akan puas ketika Malam telah tiba dan segalanya telah sirna.

Oh, kunanti engkau, Setan, dalam getar gila tak sabar.

Dan seraya kubergegas kembali menembus kegelapan Oktober yang dingin, kurasakan getar ini di tiap serat tubuhku yang perempuan dan penuh gairah.


MARY MACLANE tumbuh dewasa di Butte, Montana, desa tambang yang jauh dari pusat budaya mana pun. Ia mendamba orang-orang yang memahami pemikirannya, ia mendamba ketenaran, pengalaman, dan kebahagiaan. Tak seperti remaja kebanyakan yang menggantungkan harapan kepada 'pangeran tampan', MacLane melihat Setan sebagai penyelamatnya. Menurutnya, Setan-lah yang mampu memberinya pengalaman dan kebahagiaan. Maka, ia menanti datangnya Setan.

Dengan tulisannya yang dahsyat dan orisinil, ia berhasil keluar dari kota asalnya, menjadi penulis yang sangat populer, dan hidup sesuai keinginannya. Memoarnya yang blak-blakan berjudul asli I Await the Devil's Coming, tetapi diubah oleh penerbitnya menjadi The Story of Mary MacLane (1902). Buku itu terjual seratus ribu kopi, tapi diberangus di kota asalnya. Buku-bukunya yang lain: My Friend, Annabel Lee (1903) dan I, Mary MacLane (1917). MacLane tak segan menulis tentang tema-tema tabu, seperti ketertarikannya kepada perempuan. Ia mewakili suara banyak perempuan yang berani merebut kebebasan walau sering dicap liar dan binal. Oleh karena itu, ia lebih dari layak mendapat tempat dalam serial Defiant Voices.

#Defiant_Voices #SastraBerani #SASTRATERLARANG